Jumat, 30 September 2011

sejarah Hancurnya Kekaisaran Romawi Kuno

sejarah Hancurnya Kekaisaran Romawi Kuno

Kekaisaran Romawi (Roma) adalah sebuah kerajaan yang cukup besar dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Ia pernah mengalami jaman keemasan, dengan tentara perangnya yang disegani semua bangsa. Pada suatu masa, bangsa Romawi sedang berada di puncak kejayaan, sekaligus awal dari kehancurannya. Pada saat yang bersamaan ajaran Kristus sedang berkembang, menerangi umat manusia di wilayah kekaisaran ini.

Karena kebenciannya terhadap agama Tuhan ini, menurut catatan sejarawan Roma, Tacitus bahwa Kaisar Nero sengaja membakar kota Roma, lalu menimpakan kesalahan kepada kaum Kristen. Kemudian Kailelius juga mengambil tindakan yang serupa, dalam 15 hari di Istana Nihemiya, menciptakan dua musibah kebakaran dan memfitnah, bahwa semua kebakaran tersebut merupakan perbuatan kaum Nasrani, memaksa kaisar pada waktu itu Dioklesian mengambil tindakan yang kejam menindas mereka.

Demi untuk membangkitkan perasaan anti-Nasrani di masyarakat, pemikir Romawi kuno tidak sedikit telah menyusun desas-desus yang khusus ditujukan pada mereka, seperti misalnya akan membunuh pengikut Yesus yang ke gereja, mereka menghirup darah bayi dan memakan dagingnya, lalu mengatakan bahwa mereka berpesta pora, dan melakukan perbuatan maksiat dan lain sebagainya, segala perbuatan jahat masyarakat Romawi kuno semuanya ditimpakan kepada kaum Nasrani.

Pada waktu itu, Kaisar Nero pernah memerintahkan untuk memasukkan tidak sedikit kaum Nasrani ke gelanggang aduan, para pembesar Roma tertawa terbahak-bahak memandangi orang-orang yang dalam keadaan hidup-hidup dicakar dan digigit hingga mati oleh binatang buas. Dia bahkan berpesan agar mengumpulkan kaum Nasrani yang banyak, lalu dijadikan satu ikatan bersama dengan rumput kering, dijadikan obor dan dibariskan ke tengah-tengah taman bunga, kemudian dibakar pada saat menjelang malam, menerangi pesta di taman kekaisaran.

Kaisar Markus Aurellius juga sangat kejam dalam menindas kaum Kristen. Menurut gambaran sejarawan Shafu, "Mayat dari orang yang dikubur hidup-hidup, berserakan di jalan-jalan, dan mayat itu lalu dibakar setelah dipotong-potong anggota tubuhnya, kemudian abu tulang yang tersisa ditebarkan ke sungai, untuk menghindari seperti dengan apa yang mereka namakan: 'bahwa musuh malaikat, menodai alam semesta'."

Tahun 250 M, penguasa lalim Decius mengeluarkan perintah kaisar, yang memerintahkan bahwa kaum Nasrani dalam perayaan hari penyesalan harus melepaskan kepercayaannya sendiri, jika tidak, akan menerima pengadilan Gubernur Jenderal setempat. Pejabat pemerintah yang menjadi kaum Nasrani akan diganjar dengan hukuman sebagai budak, atau harta bendanya akan disita. Dan akan dihukum mati bagi yang bersikeras. Lalu mengenai rakyat biasa, kondisinya lebih mengenaskan lagi. Tahun 303 M, Raja Dioklesian mengeluarkan perintah lagi, "sebuah penindasan terhadap agama mulai digencarkan oleh pemerintah kekaisaran Romawi," penghancuran gereja oleh massa, perampasan kitab suci dan pembunuhan yang kejam terhadap pastur atau pendeta.

Dalam sejarah, penindasan terhadap kaum Kristiani perempuan merupakan suatu hal yang mengejutkan. Beberapa buku sejarah telah menceritakan tentang beberapa peristiwa yang terjadi antara tahun 209 M hingga 210 M. Konon dikatakan, bahwa para wanita yang telah mengucapkan janji suci kaul kekal, dipaksa untuk menerima cobaan yang berat antara kesucian diri dan kepercayaan pada agama. Seperti yang telah diketahui oleh orang-orang, bahwa sistem hukum Romawi kuno sangat modern, sistem perlindungan hukumnya sudah matang. Namun sistem hukum yang sempurna tidak mencegah kekejaman.penguasa terhadap penindasan keyakinan yang lurus, mengadili dan menghukum malah menjadi semacam pola kekuasaan raja tertinggi.

Pada masa Romawi kuno, seorang pengawas yang bernama Plinius melapor kepada Kaisar Trajanus dengan mengatakan, "Siapa pun yang dituduh sebagai kaum Nasrani, aku pernah menanyai, apakah mereka benar-benar seorang Kristiani. Jika mereka mengaku, aku lalu menakuti mereka dengan hukuman, dan kemudian bertanya lagi, jika mereka tetap bersikeras mengaku sebagai Kristiani, aku akan memerintahkan untuk menghukum mati mereka." Lalu Raja Trajanus memberikan tanggapan dan berkata, "Cara engkau menangani para tertuduh Kristen sangat tepatc." Peristiwa ini dikenal busuk dengan "kasus Cyprianus yang dipancung".

Pendeta Cyprianus menolak melepaskan kepercayaan untuk "mengoreksi kesalahannya dan menjadi manusia baru". Pengadilan lalu memastikan bahwa dakwaannya dinyatakan sah dengan tuduhan "menghimpun secara rahasia kelompok yang melakukan tindak kejahatan" dan juga atas dakwaan "memusuhi semua malaikat Roma", maka akhirnya ia dijatuhi hukuman pancung.

Penindasan terhadap kepercayaan yang lurus tidak bisa dipahami oleh seseorang yang berhati baik, karena hal ini disebabkan oleh sifat iri hati, sewenang-wenang dan kejam. Jika dipandang dari sudut sejarah, keyakinan yang lurus selalu muncul pada masa kemerosotan moral dan kebejatan jiwa manusia. Kekuatan yang baik akan langsung menyerang terhadap bermacam-macam faktor kejahatan yang telah terpupuk lama. Penindasan terhadap keyakinan lurus, hanya merupakan sebuah ekspresi perbandingan kekuatan antara yang baik dengan yang jahat, yang mana juga merupakan rontaan sakaratul maut sebelum musnah.

Jika dipandang dari semua kekuasaan yang sewenang-wenang dan jahat tersebut, maka pemikiran apa pun yang tidak disertai dengan ketulusan, keyakinan, dan populasi semuanya memiliki ancaman serius, yang akan menjadi target penindakan dan pukulan.

Raja Roma Domitian pernah memerintahkan untuk menggeledah dan menangkap kaum Nasrani secara besar-besaran dan dihukum mati, bahkan adik sepupunya sekeluarga juga tidak dilepas. Raja Domitian menindas kaum Kristiani dikarenakan mereka tidak bersedia menyebutnya sebagai malaikat. Raja ini tidak sudi menanti kelaziman bahwa hanya setelah meninggal yang akan dianggap sebagai malaikat. Semasa hidupnya menghendaki rakyat menyebutnya sebagai "Tuhan kami, malaikat kami".

Raja Dioklesian demi untuk supaya berhasil menyatukan kekaisaran Romawi, menghendaki semua rakyat Roma untuk menganut satu kepercayaan saja, dikarenakan demikian, maka kaum Kristiani menjadi suatu kerisauan bagi dirinya, Kemudian, dia memerintahkan untuk menghancurkan gereja, dan kaum Kristiani dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya atau memilih di antara kematiannya.

Dalam penyebarannya, kaum Nasrani berpegang teguh pada keistimewaan keyakinannya, tidak bersedia berpadu atau berdiri sejajar dengan agama lainnya, yang mana juga telah menyinggung agama orang yang membela Roma. Pada waktu itu, di kota Roma banyak ajaran dari berbagai bangsa dengan bermacam-macam versi, dan banyak yang merupakan ajaran sesat, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati para penganut sesat itu terhadap keyakinan yang lurus.

Pada masa Romawi, penganut Nasrani berpegang teguh pada kesucian, cinta kasih, kearifan dan keadilan, semua ini tampaknya bukan suatu pemikiran yang praktis pada saat itu. Karena ditimbulkan dari rasa kasih, kaum Nasrani menolak untuk memasuki gelanggang menonton pemandangan adu manusia antara penjahat perang dengan budak belian, mereka melepaskan budak belian mereka sendiri tanpa syarat. Tidak sedikit pendeta yang mengritik pola hidup orang Roma yang mewah dan berpoya-poya yang menyebabkan timbulnya rasa tidak senang beberapa orang. Kehidupan individu kaum Nasrani yang polos sederhana, telah merosotkan suasana kemewahan di masyarakat menjadi semacam perbandingan kuat yang mengancam banyak orang, terlebih lagi bagi penguasa.

Pada masa Romawi kuno, Uskup Paulus dibawa menuju ke gelanggang. Pengawas berkata, asal saja dia menolak Kristen di hadapan massa, maka akan diberikan kebebasan. Paulus mengatakan, "Selama 80 tahun aku tetap mengabdi akan Tuhanku, Dia tidak pernah berlaku tidak adil terhadapku, bagaimana boleh aku menghinaNya penyelamatku?" Pengawas bermaksud membakar Paulus. Dengan tenang Paulus berkata, "Kau ingin menakutiku dengan bara api, kekuatan api tersebut hanya akan membakar selama 1 jam saja, kau malah melupakan api neraka yang tidak pernah padam selamanya." Tidak lama kemudian, sekelompok massa yang brutal, menyembul keluar lalu membakarnya hidup-hidup.

Pada saat itu, banyak sekali pengikut setia Kristen, yang bukan hanya tidak mengerang dalam kobaran api tersebut, malah memuji-muji malaikat mereka dalam kobaran bara api . Semua akhlak bobrok dan pandangan kabur serta kuping yang tuli masyarakat Roma ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dipahami. Dalam sejarah, kaum Kristen mengabdikan dirinya untuk suatu kepercayaan yang diyakininya.



0 komentar:

Poskan Komentar